#1 Transisi

By Iksaan.ae@blogspot.com - 12.25

Hai perkenalkan, nama ia "lelaki", sebut saja seperti itu. Lelaki yang terlahir dari keluarga biasa saja, bahkan terbilang sangat sederhana. Tak ada yang istimewa, yang istimewa ialah mereka yang membuat keberadaan lelaki itu ada. Iya, mereka. Sepasang manusia yang sudah mengecap rasa dunia separuh abad. Sepasang manusia yang selalu menyebut nama lelaki itu dalam setiap doa di sepertiga malam. Sepasang manusia yang menaruh harap pada ia, mereka sering mengatakan "Kau harus mampu berbuat lebih, harus lebih dari orang tuamu. Bapak dan ibumu ini gak pernah tau gimana rasanya sekolah sampe SMA, apa lagi sampe kuliah. Paling tidak, kalau tidak ada yang bisa dibanggakan dari orang tuamu, ada kamu yang bisa jadi kebanggaan keluarga."

Usia lelaki itu kini belum genap 23 tahun. Ia masih mencari pemaknaan soal hidup, soal jati diri dan soal bagaimana menempa diri menjadi lebih baik dari hari ke hari. Kadang terlintas di pikirannya, akan manusia-manusia yang sudah ia temui, ada rasa syukur yang ingin ia langitkan, kepada siapapun yang telah memberi banyak pelajaran. Entah itu yang singgah sebentar lalu pergi, atau mereka yang rela menetap dan selalu mendampingi. Ia percaya, apapun yang terjadi pada ia hari ini tidak lain karena apa yang sudah ia alami sebelumnya. Menjadi orang yang lebih baik atau tidak pun tergantung bagaimana ia menyikapi segala hal yang terjadi kemarin. Mungkin, ia tak sepenuhnya dewasa. Namun, ia sedang berusaha mendewasakan diri. Beberapa hal yang menuntun ia pada jalan kedewasaan adalah soal cara berkawan dan soal percintaan. Ia pernah menjadi orang yang tak dipercayai oleh siapapun, termasuk kawannya sendiri. Bahkan menjadi orang yang senantiasa dianggap kecil walau ia punya rencana yang besar. Barangkali kalian pernah merasai yang seperti itu. Suatu waktu kalian punya gagasan, namun gagasan kalian tak pernah dianggap, gagasan kalian hanya menuai tindakan remeh dari sekitar. Kalian berusaha membuktikan, namun selalu dipatahkan. Ya, lelaki itu dulunya seperti itu, selalu merasa kecil di antara yang lain. pun merasa ada, namun tak benar-benar ada.

Di lain hal, ada beberapa kisah yang mendorong ia untuk jadi lebih baik dari hari ke hari. Beberapa pengalaman membuat ia semakin mantap melangkah ke depan. Ia kini tak lagi peduli soal pertanyaan seputar pasangan. Pertanyaan yang beberapa tahun ini selalu sama. "Kapan punya pacar?" "Kapan mengakhiri kesendirian?" Ia sudah cukup kenyang dengan pertanyaan itu. Pun sudah cukup kebal bila dihantam oleh pertanyaan sejenis itu. Bukan tak ingin menjalin suatu hubungan. Namun bagi ia, suatu hubungan tidak sesederhana itu. Bayangkan saja, sepasang manusia yang berbeda harus menjalin suatu komitmen. Entah itu kepercayaan atau pun kesetiaan. Memang sejatinya hubungan adalah soal saling melengkapi. Soal bagaimana sepasang manusia bisa saling mengisi kekurangan. Lelaki itu sangat mafhum dengan hal itu, itu sebabnya ia selalu merasa jauh dari kata cukup; sekadar cukup mengerti pasangannya saja ia jauh, apalagi di titik mampu. Sangat muskil untuk ia yang selalu merasa kurang.     

Ia pernah menjalin kisah, tepatnya 3 tahun lalu. Pernah juga merasai debar-debar seperti mereka-mereka, kalau kalian bertanya soal bagaimana rasanya? tentu saja sama, menyenangkan. Namun bukan hubungan apabila menyenangkan saja, kan?. Selalu ada duka yang turut andil dalam melengkapinya. Bukankah bahagia dan kecewa senantiasa berdampingan? Itu sebabnya tuhan menciptakan pertemuan dan perpisahan. Lantas apakah lelaki itu menuai perpisahan juga? Iya, hubungan lelaki itu berakhir. Tak lebih dari dua bulan menjalin kisah, lelaki itu sudah harus bergelut dengan rasa patah. Galau? pasti, namun ada banyak hal di dunia ini. Lelaki itu sadar. Kemudian segera bangkit untuk memulai lagi. Memulai hubungan baru? Bukan! memulai untuk mejalani hidup yang jauh lebih baik lagi.

Ia menata hidupnya, memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia tujukan untuk dirinya sendiri, seperti: Akan menjadi seperti apakah ia di mata orang? Mengapa orang lain harus menyukainya? Atau sudah cukup baikkah dirinya dalam memperlakukan dirinya sendiri? Barangkali kita sering tidak sadar dengan apa yang kita lakukan, kita sering beranggapan terkait apa yang baik di mata orang, namun lupa, apa yang terbaik untuk diri kita sendiri. Untuk saat ini, berbaikanlah dengan diri sendiri. Tak usah peduli kata orang, yang pasti, kau tahu, apa yang terbaik untuk dirimu sendiri.

Lelaki itu pun begitu, kini ia tak lagi memperdulikan orang lain. Saat gagasannya dianggap bodoh oleh segelintir orang, ia hanya perlu membuktikan.  Saat mereka tak mengakui, ia sendiri yang membuat cara bagaimana itu diakui. Segala hal ia coba, untuk membuat keberadaannya terasa ada. Memang tak mudah. Namun percayalah, bahwa semesta selalu punya rencana yang indah. Untuk lelaki itu, atau pun kalian yang merasakan hal yang sama.

"Jangan menyerah, ada hari esok yang menunggu kau jadi sosok yang berbeda." 


-Iksaanbae.




  • Share:

You Might Also Like

1 komentar